foto1
foto1
foto1
foto1
foto1
Paroki HTB SP Maria
Jl. Merbabu No.24
Boyolali 57311



In Memoriam Romo AM Ardi Handojoseno SJ:

Kejutan Tuhan, Menciptakan Tsunami Kehidupan yang Tetap Misteri

Oleh : Romo Laurentius Priyo Poedjiono SJ

RIP Pastor Aloysius Maria Ardi Handojoseno SJ (1969-2017)

 

YANG Terkasih: Tuhan yang Maha Misteri

Sampai detik ini, aku masih gamang. Juga masih belum sepenuhnya memahami kehendakMu, yang tiba-tiba memanggil saudaraku, Rama Ardi Handojoseno SJ.

Sore tadi,  seperti biasa para novis Jesuit, Romo Magister Novis SJ, plus Pater Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia yakni Romo Sunu Hardiyanto SJ, dan beberapa romo tersiaris tengah main bola di lapangan novisiat. Sementara,  Rm Ardi  memilih jogging  dengan dua novis. Mereka berlarian kecil-kecil  mengitari kebun sekitar lapangan sepakbola.

Pukul  17.00 WIB, aku kembali ke lapangan bola novisiat, sekedar ingin melihat sejenak mereka sedang asyik bermain bola dengan gembira. Lalu saya pulang ke kamar dan melewati Taman Ratu Damai, di kompleks Kerkop Girisonta.

Rute ini jarang aku lalui.

Tiba-tiba,  aku dikejutkan oleh pemandangan aneh.  Terlihat samar-samar seseorang tertelungkup di depan Patung Bunda Maria. Itu  karena aku tidak pakai kacamata.

Bukan halusinasi

Aku segera ambil kacamata dan lalu kembali balik ke Taman tersebut dengan mengajak Rama Andre Yuniko, salah satu imam Jesuit yang tengah mengikutri program Tersiat (karenanya disebut ‘tersiaris’) untuk bersama-sama mengecek.

Saya sempat berpikir,  semoga orang yang tertelungkup hanya halusinasiku. Ternyata aku tidak sedang berhalusinasi, begitu mendekat Rama Andre Juniko SJ langsung berteriak: Itu Ardi!.

Bagaikan halilintar atau tsunami menyergap hati dan budiku. Gelap gulita dan terkejut, diam terpekur sambil berdesis: Tuhan mengapa ini? Aku tidakpaham.

Kemarin masih bermain basket ringan dengan Rama Niko, Rama Ismael Jose dari Provinsi SJ Filipina), dan saya.

Rama Andre masuk kembali memanggil teman-teman imam tersiaris lainnya: Niko dan Jose, termasuk Rama Provinsial SJ Provindo (Rama Sunu Hardiyanto SJ), dan perawat Emmaus Girisonta: Mbak Anggra.

Dicek tensinya sudah tidak terdeteksi. He has gone, teriakku. Kami semua shocked berat, dan kemudian memapah jenasahnya ke mobil dan segera dibawa ke Rumah Sakit Ken Saras, kurang lebih 2 km dari Girisonta.

Dokter jaga di situ  juga menyatakan bahwa Rama  Ardi SJ telah meninggal.

Kebisuan mendalam

Hanya air mata yang masih tersisa, kami semua terdiam terpekur,  sejak kami menemukan jenasahnya, juga sampai sekarang. Detik detik berlalu dalam kebisuan mendalam.  Kenapa begitu cepatnya ia ‘pergi’?.

Sulit memahaminya.

Tadi (baca: Hari Sabtu siang tanggal 8 April 2017) kami mengadakan makan siang bersama seluruh anggota komunitas Kolese St. Stanislaus Kotska Girisonta dalam rangka menutup kunjungan (visitasi tahunan) Pater Provinsial. Almarhum Romo Ardi sangat tampil sangat ceria. Tidak ada firasat, tidak ada angin, hujan, halilintar, tiba-tiba tsunami menerjang kalbu kami: keluarganya, ibu, kakak dan adiknya, kami sekomunitas Girisonta, keluarga besar SJ Provinsi Indonesia dan handai taulannya yang bertebaran dimana-mana.

Menerima almarhum sebagai calon Jesuit

Tahun 1998 silam, almarhum diantar keluarganya memasuki kompleks Novisiat SJ di Girisonta untuk mengawali langkah hidupnya yang baru sebagai novis –calon Jesuit. Waktu itu pula, saya sebagai Magister Novis SJ bertugas sebagai wakil Serikat Jesus yang juga resmi  menerima keputusannya ingin menjadi seorang Jesuit.

Januari 2017 akhir lalu, almarhum Romo Ardi SJ kembali memasuki “Tahun Ketiga Novisiat” yakni harus melakoni program pembinaan akhir sebagai Jesuit. Dan lagi-lagi dalam kapasitas saya sebagai instruktur Tersiat,  saya juga mewakili tim menerima dia di Girisonta.  Dan tadi, aku pula yang menemukan dia tertelungkup di depan Bunda Maria. Absurd (susah dimengerti).

Di tengah kebisuan dan kesedihan mendalam ini, perkenankanlah aku mengutip salah satu lagu kesayangan almarhum Romo Ardi. Tentu dengan petikan gitarnya yang menggetarkan:

“Take Lord, receive all my liberty, my memory, understanding, my entire will…

Your love and your Grace are enough for me”.

Lirik inilah yang menemaniku dalam kegamangan ini.

Selamat jalan Rama  Ardi SJ terkasih. Penyertaanmu sungguh kami butuhkan.

PS: Petikan teks doa itu diambil dari formula doa Ignatian Suscipe (Terimalah Ya Tuhan).

 

Pastor Jesuit asal Muntilan, alumnus Seminari Mertoyudan tahun masuk 1975, mantan Magister Novis SJ dan kini Instruktur Program Tertiat Jesuit.
Monday

Pengunjung

34531
TodayToday14
YesterdayYesterday47
This_WeekThis_Week14
This_MonthThis_Month922
All_DaysAll_Days34531