foto1
foto1
foto1
foto1
foto1
Paroki HTB SP Maria
Jl. Merbabu No.24
Boyolali 57311



SEJARAH PERKEMBANGAN GEREJA KATOLIK

HATI TAK BERNODA SANTA PERAWAN MARIA

BOYOLALI

 

MASA SEBELUM KEMERDEKAAN

Kira-kira pada tahun 1920 datanglah seorang awam dari Yogyakarta di Boyolali dan mengajarkan Injil di rumah Bapak Kariyosemita yang lebih dikenal dengan sebutan Kariyodus, di kampung Gudang Kelurahan Siswadipuran. Yang diberi pelajaran agama Katolik disamping keluarga Bp Kariyosemita juga para remaja disekitarnya. Mulai saat itu ajaran Katolik baru dikenal oleh orang Boyolali asli. Dimana sebelumnya agama Katolik hanya dikenal oleh orang-orang Belanda yang berdomisili di Boyolali. Iman keluarga Bp Kariyosemita dapat lebih mendalam lagi setelah 3 orang putranya yang bernama Sukiman (Wignyasusastra), Suratin (A. Sasrawiratma), dan Sukinem (Sukinem Monika) setelah tamat SR melanjutkan ke Sekolah Guru (Norman School) Kanisius di Ambarawa. Setelah mereka tamat dari Norman School dan telah menjadi guru SR, keluarga Bp Kariyasemita dipermandikan. Dan pada tahun 1933 8 orang remaja disekitar Bp Kariyasemita dipermandikan oleh Romo Hendrik, SJ dari Paroki Purbayan. Dan Misa Kudus diselenggarakan sebulan sekali bertempat di gedung Pengadilan Negeri Jalan Pandanaran Boyolali.

Umat Katolik Boyolali yang kebanyakan para pendidik, untuk mengembangkan ajaran gereja menjelang tahun 1940 mendirikan Sekolah Rendah yang diberi nama MCS (Malaise Chinese School) dan menempati rumah Tjondrodipuran Jalan Merbabu No 24 yang telah dibeli. Namun sekolah ini bubar setelah Jepang masuk Indonesia.

Pada tahun 1941 Stasi Boyolali mendapat kunjungan Uskup Semarang Romo Kanjeng Albertus Soegijapranata, SJ dan disambut di gedung Brebesan (dulu Kantor DKK). Mulai saat itu Misa Kudus diselenggarakan di rumah Tjondrodipuran (yang sekarang telah berdiri gedung Gereja). Selama pendudukan Jepang, gereja Katolik tidak mengalami perkembangan yang berarti.

 

 SELAMA PERANG KEMERDEKAAN

Baru kemudian tahun 1946 Gereja Katolik Boyolali mulai ada kegiatan lagi. Umat Katolik yang ada di kota Boyolali hanya 12 keluarga, semuanya pegawai negeri dan sebagian besar para pendidik. Dan beberapa diantaranya sudah bertindak sebagai katekis, yaitu Bp Soemadi, Bp Soebrata pegawai kehewanan, R.EL. Poerwaatmadja pegawai Inspeksi P dan K. Koor gereja mulai dibentuk dan dipimpin oleh Bp Soetadi guru SMPN Boyolali. Untuk mengembangkan Gereja Katolik pada tahun 1947 didirikan SMP Katolik bertempat di rumah Tjondrodipuran. Sebagai pendiri dan penanggung jawab adalah Bp R.EL. Poerwaatmadja dan Bp Agoes Soejana (akhirnya menjadi Kepala SGA Solo) serta Bp Dwidjadarmana guru SMPN Boyolali. Namun karena terjadi Class II tahun 1948 SMP Katolik terpaksa ditutup.

 

SESUDAH PERANG KEMERDEKAAN

Setelah perang Class II selesai, SMP Katolik dibuka kembali dan Bp R. FX. Soehardi sebagai Kepala Sekolah. Dengan dibukanya kembali SMP Katolik, ada perkembangan penyebaran Injil di Boyolali. RumahTjondrodipurana disamping sebagai kapel juga untuk kegiatan pendidikan SMP Katolik. Mulai tahun 1951 Stasi Boyolali tidak lagi masuk wilayah Paroki Purbayan, tetapi masuk wilayah Paroki Purwosari. Mulai saat itu dibentuk pengurus Gereja Papa Miskin. Sebagai ketua adalah Romo dan dibantu oleh Bp Siswasoebrata, Bp R.FX. Soehardi dan Bp FX. Soepardi Somaatmadja dan sebagai sekretaris Bp Padmawijata.

Mulai saat itu Bp Poerwaatmadja merintis adanya kring-kring yaitu :

1.  Kring Tlangu Musuk

2.  Kring Ragabelah Kec. Sela

3.  Kring Ampel

4.  Kring Tegalsari Karanggede

5.  Kring Kener. Papringan, Kradenan

6.  Kring Simo dan Pentur

Pada tahun 1953 Kapel Tjondrodipuran untuk pertama kali sebagai tempat penerimaan Sakramen Perkawinan bagi Bp H. Asmadi dengan Ibu TH. Mintarsih.

Perkembangan umat Katolik di Boyolali tampak mulai pesat yaitu pada tahun 1958. Hal ini terbukti pada tanggal 13 September 1958 sebanyak 120 orang dipermandikan di Kapel Tjondrodipuran oleh Romo Beyloos, MSF. Dan di kapel ini pula pada tanggal 19 September 1958 yang pertama kali sebagai tempat penerimaan Sakramen Penguatan oleh Romo Uskup Albertus Soegijapranata, SJ.

Romo van Beek, MSF dari Paroki Salatiga yang juga berkarya di Boyolali disamping Romo Beyloos, MSF pada tahun 1958 telah mempunyai gagasan demi perkembangan gereja selanjutnya perlua diadakan gedung gereja yang memadai.

Pada pertengahan tahun 1959 Romo van der Peet, MSF mulai berkarya di Boyolali. Jumlah kring bertambah yaitu Kring Banyudana yang dihimpun oleh Bp Samna dan Kring Nagasari yang dihimpun oleh Bp/Ibu Santiarsa. Pada tahun ini pula sudah dimulai pembangunan gedung SMP Katolik untuk 4 ruang kelas. Yang 3 ruang disekat dengan hardboard yang sewaktu-waktu dapat dibuka untuk Misa Kudus pada hari Minggu. Sedangkan satu ruang lagi dibatasi tembok digunakan untuk ruang Sakristi.

 

BERDIRINYA PAROKI BOYOLALI SAMPAI SEKARANG

Pembangunan gedung gereja dimulai pada tahun 1960 dan pelaksanaan tanpa mengalami hambatan yang berarti. Biaya bersumber dari dana gotong royong umat dan bantuan dari masyarakat negeri Belanda yang dihimpun oleh Romo van Beek, MSF dan Rom over Laam, MSF serta Romo-romo yang lain. Pada pertengahan bulan Agustus 1961 pembangunan gedung gereja sudah selesai dan pada tanggal 22 Agustus 1961 diberkati dan diresmikan oleh Uskup Albertus Soegijapranata, SJ, sebagai Uskup Agung Semarang, dengan nama :

“GEREJA HATI TAK BERNODA SANTA PERAWAN MARIA”

Sejak peresmian Boyolali menjadi Paroki yang berdiri sendiri, akan tetapi pastur Paroki yang resmi belum ada. Dengan demikian kegiatan masih diurus oleh Romo-romo dari Purwasari dan Salatiga. Baru pada tahun 1962 Romo Stienen, MSF dituhaskan oleh Uskup sebagai Pastur Paroki Boyolali.

Pada tahun 1962 itu pula Paroki Boyolali bisa membeli tanah di jalan Merbabu No 61 yang kemudian didirikan TK Katolik dan diberi nama TK SANTIWATI. Agar pengelolaannya lebih baik maka TK ini diserahkan kepada Yayasan KELUARGA yang akhirnya menjadi TK KELUARGA. Pada tahun 1963 SD KELUARGA berdiri dan sekaligus dibuatkan gedung sendiri. Pada tahun 1963 pula gedung untuk Pasturan mulai dibangun.

Pada tahun 1965 stasi bertambah yaitu Stasi Dlingo. Salah satu tokohnya yaitu Bp J. Sutijana yang pada tahun 1965 pula ketika timbul G30S PKI beliau dibunuh oleh orang-orang PKI secara kejam dan disalib di galengan sawah. Beliau disamping sebagai tokoh Katolik Dlingo juga sebagai ketua kelompok Petani Pancasila Kecamatan Majasanga.

Pada tahun 1966 bermunculan guru-guru agama di masing-masing stasi. Pada tahun 1967 sekolah-sekolah mulai membutuhkan guru agama Katolik. Untuk itu Bp Ginasutrisna ditugaskan sebagai pengajar di SMP I, SMP II, SMPK, SPG, serta PGSLP, disamping Romo van der Pet.

Pada tahun 1969 dibangun susteran Franciscanes dan pada mulanya yang berkarya adalah Suster Petra, Suster Lidwiene, Suster Anita, dan Suster Bonaventura yang ditugaskan mengelola TK dan SD KELUARGA serta sebagai guru agama di sekolah tersebut.

Pada tahun 1969 mulai perwakilan Departemen Agama yang mengurusi agama Katolik mendapat kesempatan untuk mengisi santapan rohani di RSPD dan Bp AG. Siswamartana mendapat kepercayaan untuk mengisi siaran tersebut.

Pada bulan Juli 1979 Paroki Boyolali mendapat kehormatan menerima kunjungan kerja dari Romo Jendral Konggregasi MSF dari Roma. Sejak Stasi Simo dinyatakan sebagai Paroki walaupun baru Paroki Administratif, maka stasi-stasi yang berdekatan dengan Simo yaitu Klego, Andong dan Nagasari menjadi wilayah Paroki Simo. Demikian pula stasi Banyudana masuk wilayah Paroki Kartasura. Dengan demikian Paroki Boyolali tinggal memiliki Stasi Ampel, Musuk, Rogobelah, dan Dlingo. Pada pertengahan tahun 1986 beberapa tokoh Katolik mempunyai gagasan untuk mendirikan sekolah SMA Katolik. Setelah beberapa tokoh mengadakan pertemuan, semua sepakat dan membentuk panitia yang diketuai oleh Bp Ig. Goeritna dan Bp FX. Tugina. Sekolah yang akan didirikan diberi nama SMA Katolik YOS SUDARSO dan sebagai pengelola sekolah adalah Yayasan Sanjaya. Tempat pendidikan di SD KELUARGA jalan Merbabu dan masuk siang. Pada tahun 1989 sekolah ini dibuatkan gedung yang terletak disebelah selatan POM Bensin Tegalwire, tanah yang ditempati gedung ini dibeli atas hasil penjualan tanah milik gereja yang terletak di Karanggeneng. Setelah gedung jadi pada tahu 1989 tempat kegiatan pendidikan SMAK YOS SUDARSO menempati gedung baru milik sendiri. Pada waktu pindahan dari SD KELUARGA ke gedung baru diadakan prosesi jalan kaki dengan jarak sekitar 3 km yang diikuti oleh seluruh siswa, guru dan karyawan, panitia pendiri, panitia pembangunan gedung, dan Dewan Paroki. Dalam prosesi gerak jalan tersebut juga diikuti oleh Bp Moh. Hasbi sebagai Bupati Boyolali dan Bp R. Ginting sebagai Komandan Kodim Boyolali, yang berjalan paling depan dengan penuh semangat. Kebetulan Bp R. Ginting juga sebagai tokoh Katolik dan sebagai panitia pendiri SMA Katolik YOS SUDARSO. Sekolah ini mengalami perkembangan cukup baik, sehingga sejak tahun 2000 telah meraih status DISAMAKAN. Jadi sejak tahun 2000 sekolah tersebut sudah melaksanakan ujian sendiri.

Tokoh-tokoh Katolik di Stasi Ampel pada tahun 1982 telah mendirikan SMP Katolik SANJAYA dan penglolaannya diserahkan kepada Yayasan SANJAYA di Semarang. Pada tahu ajaran 1982/1983 sudah menerima siswa baru sebanyak 54 anak. Bp Ir. Sri Sukamto ditunjuk sebagai Kepala sekolah. Karena sekolah ini belum memiliki gedung sendiri maka kegiatan pendidikan berpindah-pindah. Maka pada tahun 1984 mulai dibuatkan gedung sebanyak 4 ruang kelas diatas tanah seluas 1.912 m2 milik Yayasan Gereja Papa Miskin Boyolali. Tanah ini dulu dibeli dari Bp Soehardja (mantan Bupati Boyolali). Walaupun gedung belum sempurna, tetapi pada tahun 1984 itu pula gedung sudah ditempati sebagai kegiatan belajar mengajar. Pada tanggal 23 Oktober 1988 Yayasan Sanjaya Semarang melimpahkan pengelolaan SMPK Sanjaya Ampel kepada Yayasan Kanisius yang berpusat di Surakarta. Dan sejak saat itu SMPK Sanjaya berubah menjadi SMPK Kanisius Ampel. Pada tahun 1996 ruang kelas ditambah sehingga menjadi 6 ruang kelas dan 1 ruang kantor.

 

PERKEMBANGAN WILAYAH DAN STASI

Ketika Paroki Boyolali berdiri tahun 1961 di kota Boyolali sudah terbentuk 4 Kring, disebut Kring I, Kring II, Kring III dan Kring IV. Setelah berdiri Paroki Boyolali kring-kring tersebut berubah menjadi wilayah.

Kring I menjadi Wilayah Matius dengan pamong wilayahnya Bp YB. Sunarno

Kring II menjadi Wilayah Yohanes dengan pamong wilayahnya Bp S. Darsosumarno

Kring III menjadi Wilayah Tomas dengan pamong wilayahnya Bp A. Darmanto

Kring IV menjadi Wilayah Petrus

Masing-masing wilayah mengatur kegiatan wilayahnya yang menyangkut liturgi maupun kegiatan sosial.

 

Perkembangan Wilayah :

Pada tahun 1982 Wilayah Yohanes pecah menjadi :

1.  Wilayah Yohanes; pamong wilayahnya Bp M. Slamet Hardjaka

2.  Wilayah Paulus; pamong wilayahnya Bp V. Wijata

Pada tahun 1991 Wilayah Paulus dipecah menjadi :

1.  Wilayah Paulus; pamong wilayahnya Bp V. Wijata

2.  Wilayah Lukas; pamong wilayahnya Bp FX. Ngateman

Pada tahun 1993 Wilayah Tomas dipecah menjadi :

1.  Wilayah Yusup; pamong wilayahnya Bp A. Darmanto

2.  Wilayah Fransiskus; pamong wilayahnya Bp Ag. Pamudji Slamet

Pada tahun 1995 Wilayah Petrus dipecah menjadi :

1.  Wilayah Petrus; pamong wilayahnya Bp A. Heriyono

2.  Wilayah Yakobus; pamong wilayahnya Bp AC. Sudarno

 

Perkembangan Stasi :

Pada waktu Paroki Boyolali berdiri mempunyai 9 stasi. Namun dalam perkembangannya setelah Paroki Kartasura dan Paroki Simo berdiri, maka banyak stasi yang bergabung ke Paroki baru mengingat pada jarak yang lebih dekat. Stasi-stasi itu adalah :

1.  Stasi Musuk

2.  Stasi Ragabelah

3.  Stasi Ampel

4.  Stasi Dlingo

5.  Stasi Simo yang sekarang telah berdiri sebagai Paroki Simo

6.  Stasi Nagasari yang sekarang masuk Paroki Simo

7.  Stasi Pentur yang sekarang masuk Paroki Simo

8.  Stasi Karanggede yang sekarang masuk Paroki Simo

9.  Stasi Banyudana yang sekarang masuk Paroki Kartasura

 

PANGGILAN BIARAWAN/BIARAWATI DAN TOKOH-TOKOH KATOLIK

PANGGILAN BIARAWAN / BIARAWATI

Selama kurun waktu 55 tahun berdirinya Paroki Boyolali masih sedikit yang mendapat panggilan sebagai biarawan atau biarawati. Yang telah mendapat panggilan sebagai biarawan / biarawati adalah :

1.  Romo Gathot mantan siswa SMPK Kanisius yang berasal dari Kener sebagai Pastur

2.  Romo A. Agus Sugiarta dari Stasi Dlingo putra Bp W. Suyitno pada tahun 1995 ditahbiskan sebagai Pastur. Sekarang bertugas di salah satu Paroki di Denpasar Bali

3.  Suster Sugiyanti dari Stasi Dlingo pada tahun 1988 telah mengikuti pendadaran Sekolah Biarawan Gedangan. Sekarang bertugas di Rumah Sakit Elisabeth Semarang

4.  Suster A. Ning, SFS dari keluarga Siwal Desa Tempel termasuk wilayah Yakobus

5.  Suster Agnes Dyah Amartani Siwi, putra pertama Bp / Ibu Yosep Suparno Desa Mudal termasuk Wilayah Yakobus

 

TOKOH-TOKOH KATOLIK :

Banyak tokoh-tokoh Katolik Paroki Boyolali yang berjuang sekuat tenaga demi pengembangan Gereja Katolik Boyolali baik sebagai perintis berdirinya Paroki Boyolali maupun sebagai penerus untuk memperluas kerajaan sorga di wilayah Boyolali. Tokoh-tokoh tersebut anatara lain adalah :

1.  Bp Karijosemito (Karijodus) penduduk asli Boyolali yang pertama kali mengenal ajaran Yesus. Di rumahnya diadakan pengajaran agama Katolik. Pengajaran Katolik diikuti disamping keluarganya sendiri juga diikuti oleh para remaja kampong Gudang. Tiga orang putranya akhirnya bersekolah di Normal School Kanisius Ambarawa dan selanjutnya menjadi guru di Boyolali

2.  Bp Soebadi Hardjalukita adalah pegawai Kejaksaan Negeri Boyolali

-  Sebagai aktifis Gereja

-  Pernah menjadi anggota DPR/MPR RI

3.  Bp IK. Darmawardaya :

-  Pernah menjabat sebagai Kepala Inspeksi Sekolah Dasar Kabupaten Boyolali

-  Sebagai Panitia Pendiri SMP Katolik

4.  Bp Is. Siswosoebroto :

-  Sebagai Kepala SMP Negeri Boyolali

-  Membantu kelancaran kegiatan belajar mengajar SMPK Kanisius, karena sebagian besar guru-guru SMPK Kanisius adalah guru dari SMPN Boyolali

-  Sebagai Donatur Gereja

-  Sebagai Ketua Yayasan GPM (Gereja Papa Miskin)

-  Sebagai Prodiakon yang pertama kali

-  Terakhir menjabat sebagai Direktur Bank Guna Daya

5.  Bp Poerwoatmodjo :

-  Pekerjaan sebagai pegawai Kantor Inspeksi Sekolah Dasar

-  Sebagai guru agama di Kring-kring, Stasi-stasi bahkan sebagai perintis timbulnya Stasi-stasi

-  Sebagai panitia pendiri SMPK Kanisius sekaligus menjabat Tata Usaha

6.  Bp Padmowijata :

-  Sebagai guru SMPN Boyolali

-  Sebagai sekretaris pengurus Gereja Papa Miskin

-  Pernah menjadi anggota DPRD Boyolali dan berhasil memperjuangkan adanya Makam khusus Katolik

7.  Bp Gino Soetrisno :

-  Sebagai guru agama di sekolah-sekolah

-  Pernah sebagai koster pasturan

-   Perwakilan agama Katolik di Depag Kab Boyolali

8.  Bp D. Sutarto :

-   Jabatan terakhir sebagai Kepala Depdikbud

-   Sebagai Ketua Dewan Paroki berkali-kali

-   Sebagai Ketua Pemuda Katolik yang pertama kali

-   Pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Boyolali

9.  Bp SY. Soemardi dari Simo :

-   Sebagai guru SGB Negeri Kartasura

-   Sebagai perintis gereja di Simo

-   Sebagai pendiri SMP Katolik Simo

-   Sebagai pendiri SPG Katolik Simo

-   Sebagai pendiri SMA Katolik Simo

-   Sebagai perintis berdirinya SMEA BK Simo

10.   Bp Agus Sujono dari Stasi Ampel :

-  Jabatan kedinasan terakhir sebagai Direktur SGA Surakarta

-  Sebagai anggota panitia pendiri SMP Kanisius

-  Sebagai penasehat panitia pendirian gedung gereja St. Andreas Ampel

-  Sebagai penasehat Dewan Stasi Ampel

-  Sebagai perintis Kring Seboto

-  Sebagai anggota panitia pendiri SMP K Sanjaya Ampel

-  Pada waktu masih SGA / SPG, buku Ilmu Pendidikan karangan Bp Agus Sujono menjadi pegangan bagi SGA seluruh Indonesia

11.   Bp Goeritno :

- Jabatan terakhir sebagai Kepala Kantor Perikanan Kab Boyolali

- Pernah menjadi Ketua Dewan Paroki

-Selama masih dinas di pemerintahan beliau sebagai penghubung hubungan Gereja Katolik dengan Pemerintah Daerah

Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh Katolik di Boyolali, tetapi tidak memungkinkan untuk semuanya ditulis disini.

 

PERKEMBANGAN UMAT

1. Pada tahun 1931 baru keluarga Karijasemita yang dibaptis

2. Pada tahun 1933 tambah 8 orang remaja kampong Gudang dibaptis

3. Pada tahun 1946 baru 12 keluarga yang telah dibaptis

4. Pada tahun 1961 yang hadir dalam Misa Minggu sekitar 150 orang

5. Pada tahun 2001 berdasarkan pendaftaran pada bulan April sebagai berikut:

a.  Jumlah Kepala Keluarga : 512 KK

b.  Jumlah Umat : 1.718 orang

 

6. Paroki Boyolali saat ini (2017) melayani umat Katolik sejumlah 1.815 jiwa, yang  menyebar di 9 kecamatan, terdiri dari 7 kecamatan di Kabupaten Boyolali  yaitu:  Kecamatan  Boyolali, Musuk, Selo, Cepogo, Ampel, Mojosongo dan Teras serta 2 Kecamatan di Kabupaten Semarang  yaitu Kecamatan Tengaran dan Kaliwungu.

 

SEJARAH

VISI MISI

ROMO

DEWAN PAROKI

Sunday

Pengunjung

24448
TodayToday9
YesterdayYesterday108
This_WeekThis_Week474
This_MonthThis_Month1504
All_DaysAll_Days24448